Ternyata Lailatul Qodar Tidak Dimalam Ganjil Saja?!

malam lailatul qodr

Tidak diragukan keutamaan malam lailatul qodar, malam yang beribadah didalamnya lebih baik dari seribu bulan, didalamnya diturunkan al qur’an.

Dan secara khusus malam tersebut ada malam malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan yang penuh keberkahan.

Nabi bersabda seraya memerintahkan kita untuk meraihnya dengan ibadah dan keta’atan kepada Allah,

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ، مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ» البخاري رقم: 2017. ومسلم : 1169.

‘Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan: sesungguhnya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda: “Carilah lailatul qodar pada malam ganjil dari sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari (2017) dan Muslim (1169))

في رواية : (فَابْتَغُوهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ، وَابْتَغُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ) البخاري رقم: 2018 .

“Maka carilah pada malam sepuluh terakhir, carilah pada setiap malam ganjil” . (HR. Bukhari (2018))

Dan dalam hadits lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata, sesungguhnya Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

«التَمِسُوهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ القَدْرِ، فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى، فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى، فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى» البخاري رقم: 2021.

“Carilah dia (lailatul qodar) pada malam sepuluh terakhir dari Ramadhan, pada malam kesembilan yang tersisa, pada malam ketujuh yang tersisa, pada malam kelima yang tersisa.” (HR. Bukhari (2011))

Dalam sebagian riwayat dari Ibu Abbas radhiyallah anhuma juga,

«هِيَ فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ، هِيَ فِي تِسْعٍ يَمْضِينَ، أَوْ فِي سَبْعٍ يَبْقَيْنَ» يَعْنِي لَيْلَةَ القَدْرِ.

Dia (lailatul qodar) pada sepuluh terakhir, yaitu pada malam sembilan yang telah berlalu, atau pada malam ketujuh yang tersisia”. Yaitu: malam Lailatur qodar.” (HR. Bukhari (no. 2022))

Setelah hadits diatas Imam Bukhari menukil perkat.aan Ibnu Abbas berikut,

وَعَنْ خَالِدٍ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ : (التَمِسُوا فِي أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ).

Dari Khalid, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas beliau berkata, “Carilah (malam lailatul qodar) pada malam duapuluh empat (24).”

🔶 Dari hadits diatas disimpulkan bahwa terdapat perintah mencari malam lailatul qodar pada malam malam ganjil, dan dalam hadits lain : pada malam kesembilan yang tersisa, pada malam ketujuh yang tersisa dan pada malam kelima yang tersisa, dan ibnu Abbas memerintahkan untuk mencarinya dimalam 24. Hal ini menjelaskan bahwa beliau memahami bahwa malam lailatul qodar bisa terjadi pada malam genap, bukan malam ganjil saja.

Kalau jumlah hari bulan Ramadhan 30, maka malam kesembilan yang tersisa bertepatan dengan malam 22, malam ketujuh yang tersisa bertepatan dengan malam 24, dan malam kelima yang tersisa bertepatan dengan malam 26, dan itu semua adalah malam malam genap.

Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

” لَكِنَّ الْوِتْرَ يَكُونُ بِاعْتِبَارِ الْمَاضِي فَتُطْلَبُ لَيْلَةَ إحْدَى وَعِشْرِينَ وَلَيْلَةَ ثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ وَلَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ وَلَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَلَيْلَةَ تِسْعٍ وَعِشْرِينَ. وَيَكُونُ بِاعْتِبَارِ مَا بَقِيَ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” )لِتَاسِعَةٍ تَبْقَى لِسَابِعَةٍ تَبْقَى لِخَامِسَةٍ تَبْقَى لِثَالِثَةٍ تَبْقَى( .
فَعَلَى هَذَا إذَا كَانَ الشَّهْرُ ثَلَاثِينَ يَكُونُ ذَلِكَ لَيَالِيَ الْأَشْفَاعِ. وَتَكُونُ الِاثْنَيْنِ وَالْعِشْرِينَ تَاسِعَةً تَبْقَى وَلَيْلَةُ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ سَابِعَةً تَبْقَى. وَهَكَذَا فَسَّرَهُ أَبُو سَعِيدٍ الخدري فِي الْحَدِيثِ الصَّحِيحِ. وَهَكَذَا أَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الشَّهْرِ. وَإِنْ كَانَ الشَّهْرُ تِسْعًا وَعِشْرِينَ كَانَ التَّارِيخُ بِالْبَاقِي، كَالتَّارِيخِ الْمَاضِي.
وَإِذَا كَانَ الْأَمْرُ هَكَذَا فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَحَرَّاهَا الْمُؤْمِنُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ جَمِيعِهِ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ” {تَحَرَّوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ} وَتَكُونُ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ أَكْثَرَ. وَأَكْثَرُ مَا تَكُونُ لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ كَمَا كَانَ أبي بْنُ كَعْبٍ يَحْلِفُ أَنَّهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِين). (مجموع الفتاوى 25/284-285).

Akan tetapi witir (malam ganjil) dihitung berdasarkan yang telah berlalu, maka carilah lailatul qodar pada malam (21), pada malam (23), pada malam (25), pada malam (27) dan pada malam (29).

Dan bisa dihitung berdasarkan malam yang tersisa, sebagaimana Nabi shalallahu’alaihi wasallam bersabda: “Pada malam kesembilan yang tersisa, pada malam ketujuh yang tersisa, pada malam kelima yang tersisa dan pada malam ketiga yang tersisa.”

Berdsarkan hal ini, jika bulan (Ramadhan) 30 hari, maka hal itu (lailatul qodar) terdapat dalam malam -malam genap, maka malam (22) adalah malam kesembilan yang tersisa, malam (24) adalah malam ketujuh yang tersisa. Begitulah yang ditafsirkan oleh Abu Sa’id Al Khudri dalam hadits yang shohih dan begitu juga Nabi shalallahu’alaihi wasallam menghidupkan malamnya (dengan ibadah) dalam satu bulan.

Dan jika halnya demikian, maka sudah seharusnya seorang mukmin bersungguh-sungguh mencarinya diseluruh malam terakhir, sebagaimana sabda Nabi shalallahu’alaihi wasallam: “Carilah dia pada malam-malam sepuluh terakhir.”

Dan yang paling banyak terjadi pada malam tujuh terakhir, dan yang lebih banyak lagi pada malam 27, sebagaimana Ubai Bin Ka’ab bersumpah mengatakan: sesungguhnya ia (lailatul qodar) pada malam duapuluh tujuh (27).” (Majmu’ Fatawa (25/284-285))

Kesimpulannya: Bahwa malam lailatul qodar, tidak mesti pada malam ganjil saja, bahkan juga terjadi pada malam genap disepuluh terakhir bulan Ramadhan. Oleh karenanya, marilah kita hidupkan malam malam sepuluh terakhir bulan ramdhan dengan seluruh keta’atan yang disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya, dengan sholat, beri’tikaf, baca al qur’an, berdzikir, istigfar, bertaubat, shadaqoh dan amalan -amalan yang lain yang disyariatkan.

Barangsiapa yang melakukan demikian pasti ia mendapatkan malam lailatul qodar yang lebih baik dari seribu bulan. Wallahu a’lam.

اللهم أعنا على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك

“Ya.. Allah, tolonglah kami untuk berdzikir dan bersyukur kepada-Mu serta melakukan ibadah yang terbaik untuk-Mu.”

Muhammad Nur Ihsan, Hafidzahullah.

STDI Imam Syafi’I Jember
16 Ramadhan 1438 H/ 10 June 2017 M

www.aqidatuna.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *