Landasan Beragama Ulama Syafi’iyah

adab-menuntut-ilmu-islam

بسم الله الرحمن الرحيم

Mengenal landasan/sumber beragama (mashdar talaqqi) merupakan perkara yang sangat urgen, karena lurusnya sumber beragama dan benarnya mashdar talaqqi sangat menentukan eksistensi seseorang atau suatu jama’ah dalam memahami permasalahan permasalahan ágama dan mengamalkannya dan sangat berpengaru dalam menentukan alur pemikiran mereka dalam mencari kebenaran.

Oleh karenanya merupakan keistimewaan Ahlussunnah Wal Jama’ah, bahwa sumber beragama mereka dalam seluruh permasalahan ágama sangatlah lurus dan benar, sehingga mereka selamat dari bermacam kebatilan dan pertentangan yang menimpah ahlulbid’ah dan pengikut hawa nafsu.

Tiada lain landasaan utama dan sumber pengambilan Ahlussunnah dalam seluruh permasalahan ágama baik aqidah, ibadah dan akhlak kecuali Al Qur’an dan Sunnah, mereka selalu berputar bersama keduanya, mereka tidak membuat cara baru dan sumber yang bid’ah dalam beragama dari diri mereke sendiri, seperti mimpi mimpi, akal/logika, ilmu kalam dan filsafat dan yang lain dari sumber yang bid’ah.

Imam Auzaa’i rahimahullah berkata:

(ندور مع السنة حيث دارت).

“Kami (Ahlussunnah) berputar bersama Sunnah kemanapun ia berputa.r”(1 Syarah ushuul I’tiqaad ahlissunnah (1/64) (no. 47), oleh Al-Lalikai)

Kemudian mereka dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah selalu kembali kepada pemahaman salafus sholeh, sehingga hal ini menjadi syi’ar mereka dalam beragama.

Nah sumber/landasan ini pula-lah (Al Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman salaf) yang di jadikan oleh ulama syafi’iyah yang setia bejalan diatas manhaj imam Syafi’i, sebagai landasan dalam seluruh perkara ágama.

Dalil yang Mewajibkan Kembali Kepada Al Qur’an Dan Sunnah

Banyak sekali dalil dari Al Qur’an dan hadits yang mewajiban perpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah dan kembali kepada keduanya dalam seluruh permasalahan ágama, diantaranya sebagai berikut:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا٥٩﴾ [النساء: 59]

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ١٥٥﴾ [الأنعام: 155]

“Dan Al-Quran itu adalah kitab yang Kami turunkan penuh dengan keberkahan, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat.”

وقال تعالى: ﴿قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ٣١ قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ٣٢﴾ [آل عمران: 31-32]

“Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah ta’atilah oleh kamu Allah dan Rasul, jika kamu berpaling (dati keta’atan kepada Allah dan Rasul-Nya) maka sesungguhnya Allah tidak mencintai orang oang yang kafir”

وقال صلى الله عليه وسلم: (فإن خير الحديث كلام الله، وخير الهدي هدي محمد، وشر الأمور محدثاتها، وكل بدعة ضلالة).

“Maka sesungguhnya sebaik baik perkataan adalah kalamullah (Al Qur’an) dan sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (Sunnah), sejelek jelek perkara adalah yang baru (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.”((H.R Muslim (no. 867))

وقال صلى الله عليه وسلم: (وقد تركت فيكم ما لن تضلوا بعده إن اعتصم به: كتاب الله…) الحديث.

“Sungguh aku telah tinggalkan kepada kamu sesuatu yang kamu tidak akan tersesat selamanya selagi kamu berpegang teguh kepadanya: yaitu Kitabullah (Al Qur’an)…”(HR. Muslim (no. 1218))

وفي رواية: (إني قد تركت فيكم شيئين لن تضلوا بعدهما: كتاب الله، وسنتي).

Dalam riwayat lain, “Sesungguhnya aku telah meninggalakan kepada kamu dua perkara yang kamu tidak akan tersesat salamanya setelah keduanya: kitabullah dan sunnah-ku.”(HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak (1/171) beliau menshohihkannya, begitu juga Syaikh Albani dalam Shohih at Targiib wat Tarhiib(1/10))

Itulah sebagian dari ayat dan hadits yang mewajibkan mengikuti Al Qur’an dan Sunnah, bahkan jika kita membaca Al Qur’an dan Sunnah niscaya akan didapatkan puluhan dalil yang menjelaskan hal ini, makanya Imam Al Lalikai (wafat: 418H) –salah seorang ulama syafi’iyah- mengatakan, “Kami tidak mendapatkan didalam kitabullah dan sunnah Rasulullah serta perkataan para shahabat kecuali perintah untuk ittibaa’ (mengikuti Al Qur’an dan Sunnah) dan celaan/larangan memaksakan diri dan melakukan bid’ah.”(Syarah ushuul I’tiqaad ahlissunnah (1/23))

Perintah dan seruan dalam dalil dalil diatas untuk mengikuti Al Qur’an dan Sunnah, sungguh telah diterima dan diamalkan oleh ulama islam, diantara mereka adalah para ulama syafi’iyah –rahimahumullah-, sehingga mereka selalu menjadikan Al Qur’an san Sunnah sebagai landasan dan sumber beragama, berikut sebagian perkataan mereka dalam hal ini:

Imam Ibnu Khuzaimah
(wafat: 311 H) berkata: ( إن الدين الاتباع) “Sesungguhnya ágama (asasnya) adalah ittibaa’ (mengikuti Al qur’an dan sunnah, pen.)”(Lihat: Al Faqiih wal mutafaqqih (1/388), oleh Al Khathiib Al Bagdaadi)


Imam Al Aajurri
(wafat: 360H) didalam kitabnya “Asy syari’ah” menulis sebuah bab yang berjudul:

“باب الحث على التمسك بكتاب الله تعالى، وسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم وسنة أصحابه رضي الله عنهم، وترك البدع وترك النظر والجدال فيما يخالف الكتاب والسنة وقول الصحابة”.

“Bab: perintah untuk berpegang teguh kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dan sunnah para shahabat beliau, serta meninggalkan bid’ah, logika dan perdebatan dalam hal yang meyelisihi Al Qur’an dan Sunnah serta perkataan para shahabat”. Kemudian beliau sebutkan hadits hadits dan atsar atsar yang menjelaskan hal itu.(Asy Syari’ah)

Imam Al Lalikai berkata dalam mukaddimah kitabnya “Syarh ushuul I’tiqaad ahlissunnah”:

(وكان من أعظم مقول، وأوضح حجة ومعقول، كتاب الله الحق المبين، ثم قول رسول الله صلى الله عليه وسلم وصحابته الأخيار المتقين، ثم ما أجمع عليه السلف الصالحون، ثم التمسك بمجموعها والمقام عليها إلى يوم الدين، ثم الاجتناب عن البدع والاستماع إليها مما أحدثها المضلون…).

“Dan adalah perkataan yang paling agung, dan hujjah yang paling jelas dan masuk akal adalah: Kitabullah yang benar lagi nyata, kemudian perkataan (sunnah) Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam dan (perkataan) para shahabat beliau yang baik lagi bertaqwa, kemudian apa yang disepakati oleh salafus sholeh, kemudian berpegang teguh kepada seluruhnya dan tegak (istiqomah) diatasnya sampai hari kiamat, kemudian meninggalkan bid’ah dan mendengarkannya dari apa apa yang di ada adakan oleh orang orang yang sesat…”(Syarh ushuul I’tiqaad ahlissunnah (1/7))

Imam Abu Mudzaffar As Sam’aani (wafat: 489H) –setelah menyebutkan sebagian dalil yang memerintahkan untuk mengikuti Al Qur’an dan Sunnah- berkata:

(وإذا ثبت أنا أمرنا بالاتباع والتمسك بأثر النبي صلى الله عليه وسلم ولزوم ما شرعه لنا من الدين والسنة، ولا طريق لنا إلى الوصول إلى هذا إلا بالنقل والحديث بمتابعة الأخبار التي رواها الثقات والعدول من هذه الأمة عن رسول الله وعن الصحابة ومن بعده فنشرح الآن قول أهل السنة إن طريق الدين هو السمع والأثر وأن طريقة العقل والرجوع إليه وبناء السمعيات عليه مذموم في الشرع ومنهي عنه).

“Apabila telah tetap bahwa kita diperintahkan untuk ittibaa’ (mengikuti) dan perpegang teguh kepada atsar (sunnah) Nabi –shalallahu’alaihi wasallam- dan mengikuti apa yang disyari’atkan kepada kita dari agama dan sunnah, maka tidak ada cara (jalan) untuk sampai kepada ini kecuali dengan nukilan dan hadits dengan mengikuti hadits hadits yang diriwayatkan oleh para perawi yang terpecaya dan adil dari kalangan umat ini dari Rasulullah dan para shahabatnya dan orang yang datang sepeninggalnya. Maka sekarang kami akan jelaskan perkataan ahlussunnah: sesungguhnya jalan (untuk menenal) agama adalah As sam’u (dalil) dan atsar (perkatan shahabat), adapun jalan logika dan kembali kepadanya serta membagun dali dalil diatasnya adalah tercela dalam syari’at (agama) dan terlarang.”(Fushuul min kitab “al intishaar liashhaabil hadits” (hal: 4-5).)

Beliau juga berkata,

(إن الله تعالى أسس دينه وبناه على الاتباع، وجعل إدراكه وقبوله بالعقل، فمن الدين معقول وغير معقول، والاتباع في جميعه واجب).

“Sesungguhnya Allah menegakkan dan membangun agama-Nya diatas ittibaa’, dan menjadikannya diketahui dan diterima dengan akal, maka diantara agama ada yang bisa dicerna akal dan ada tidak bisa dicerna akal, dan ittibaa’ (mengikuti) adalah wajib dalam semuanya.”(Fushuul min kitab “al intishaar liashhaabil hadits” (hal: 78). Lihat juga Al Hujjah fi bayaanil mahajjah (1/317) oleh: Imam
Qowaamussunnah –salah Seorang ulama syafi’iyah-.)

Itulah sebagian perkataan ulama Syafi’iyah yang menjelaskan bahwa landasan bergama adalah Al Qur’an dan Sunnah, bukan logika, ilmu kalam, filsafat dan mimpi mimpi dll.

Inilah rahasia keselamatan dan kesatuan Ahlussunnah Wal jama’ah dalam beragama, sehingga tidak ditemukan dalam aqidah mereka pertentangan dan kontropersial, bahkan apa yang mereka katakan dan tulis dalam karya ilmiyah mereka sekalipun redaksinya berbeda tetapi maknanya sama seolah olah keluar dari lisan yang satu.

Betapa bagusnya ungkapan Imam Abu Mudzoffar As Sam’aani –beliau adalah salah seorang ulama syafi’iyah- yang mengatakan, “Jika kamu memperhatikan/membaca seluruh kitab kitab karya mereka (Ahlussunnah) dari pertama sampai terakhir, yang klasik dan kontemporer, sedang zaman mereka berbeda dan tempat tinggalnya berjauhan, masing masing tinggal di tempat yang terpisah, niscaya kamu dapatkan mereka dalam menjelaskan aqidah (prinsip prinsip agama) dengan metode yang sama dan cara yang tidak berbeda. Mereka mengikuti sebuah metode yang tidak akan melenceng dan condong darinya, perkataan mereka dalam hal tersebut satu, kamu tidak dapatkan kontradiksi dan perbedaan diantara mereka dalam suatu perkara sedikitpun, bahkan jika kamu kumpulkan apa yang keluar dari mulut mereka dan apa yang mereka nukilkan dari salaf (pendahulu) mereka, niscaya kamu dapati seolah olah hal (perkataan) itu keluar dari satu hati dan muncul dari satu lisan.”(Fushul min kiatab Al intishoor li Ashhaabil hadits (hal:46) dan Al hujjah fi Bayanil Mahajjah (2/224-225))

Adakah bukti yang lebih nyata yang menjelaskan akan kebenaran dari pada hal ini? Nah, apakah rahasia dan penyebab yang menjadikan mereka bersatu dalam aqidah dan prinsip prinsip beragama? Tiada lain kecuali karena mereka semuanya mengambil agama dari sumber yang sama, yaitu Al Qur’an dan Sunnah, adapun orang orang yang mengambil aqidah dan agamanya dari selain Al qur’an dan Sunnah, seperti akal, logika dan mimpi dll, maka mereka selalu dalam perselisihan yang tajam dan kontradiksi yang dahsyat, habis umur mereka akan tetapi tidak perna bersatu dalam aqidah dan prinsip prinsip beragama, kamu menyangka mereka bersatu tetapi hati mereka bercerai berai dan bermusuhan, tentu ini adalah bukti kebatilan yang nyata dan kesesatan yang jauh, Allah Ta’ala berfirman,

﴿أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا٨٢﴾ [النساء: 82]

“Tidakkah mereka mentadabbur al qur’an, kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Imam Abu Mudzaffar As Sam’aani menjelaskan lebih lanjut seraya berkata,

(وكان السبب في اتفاق أهل الحديث أنهم أخذوا الدين من الكتاب والسنة وطريق النقل، فأورثهم الاتفاق والائتلاف، وأهل البدعة أخذوا الدين من المعقولات والآراء فأورثهم الافتراق والاختلاف، فإن النقل والرواية من الثقات والمتقنين قلما يختلف، وإن اختلف في لفظ أو كلمة فذلك اختلاف لا يضر الدين، ولا يقدح فيه، وأما دلائل العقل فقلما تتفق، بل عقل كل واحد يري صاحبه غير ما يري الآخر).

“Dan penyebab kesepakatan Ahlulhadits (Ahlussunnah) adalah bahwa mereka mengambil agama dari Al Kitab dan Sunnah serta nakal (riwayat), sehingga mewariskan kepada mereka kesepakatan dan kesatuan, sedangankan ahlulbid’ah mengambil agama dari akal/logika dan pemikiran, maka menimbulkan bagi mereka perpecahan dan perselisihan, karena nakal (dalil) dan riwayat dari para perawi yang terpecaya dan ternama jarang berbeda, jika terdapat berbedaan dalam lafadz dan kalimat maka berbedaan tersebut tidak membahayakan agama dan merusaknya, adapun dalil dalil akal/logika maka jarang sepakat/bersatu, bahkan akal/logika setiap manusia menilai apa yang tidak dinilai oleh yang lain.”(Intishaar liashhaabil Hadits (hal: 47))

MEMAHAMI AL QUR’AN DAN SUNNAH BERDASARKAN MANHAJ SALAF

Dari beberapa nukilan diatas kita simpulkan juga bahwa Ahlussunnah dalam kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah selalu bejalan diatas manhaj salafus sholeh yaitu para shahabat, tabi’in dan tabi’ tabi’in, inilah metode yang benar dalam memahami Al Qur’an dan Sunnah, dan metode ini pula yang dijadikan oleh ulama syafi’iyah sebagai landasan dalam beragama.

Berikut sebagian dalil dari Al Qur’an dan sunnah yang menjelaskan kebenaran manhaj yang mulia ini:

قال تعالى: ﴿وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ١٠٠﴾ [التوبة: 100]

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”

Dalam ayat ini Allah Ta’ala mensyaratkan bagi orang orang yang datang setelah shahabat, untuk mendapatkan ridho Allah dan syurga-Nya dengan mengikuti para shahabat dengan baik. Maka ini menjelaskan kewajiban untuk mengikuti jalan para shahabat radhiyallahu ‘anhum.

وقال تعالى: ﴿وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا١١٥﴾ [النساء: 115]

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali”.

Nah, orang yang pertama dan utama yang dimaksud dengan orang orang mukmin dalam ayat ini adalah : para shahabat dan orang orang yang mengikuti jalan mereka dengan baik sampai hari kiamat.

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: (فإنه من يغش منكم فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين المهديين من بعدي، تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ، وإياكم ومحدثات الأمور، فإن كل محدثة بدعة، وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار). رواه أبو داود وأحمد.

“Maka sesungguhnnya siapa yang hidup dari kamu niscaya akan melihat perselisihan yang banyak, maka pegang/ikutilah oleh kamu sunnahku dan sunnah para khualafa raasyidin yang mendapat petunjuk, peganglah dengan erat dan gigitlah dengan gigi gerahammu (dengan kokoh) dan tinggalkan olehmu perkara perkara yang baru, maka sesungguhnya setiap yang baru (dalam agama) adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sesat, dan setiap yang sesat (tempatnya) di dlam neraka.”

وقَالَ صلى الله عليه وسلم: « خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ » رواه مسلم (6635).

“Sebaik baik manusia adalah kurunku, kemudian orang yang datang setelah mereka, kemudian orang yang datang setalah mereka.”(HR Muslim (no. 6635))

Hadits ini menjelaskan bahwa mereka (salafus sholeh) adalah generasi yang terbaik secara mutlak dalam seluruh perkara agama, karena kalau kebaikkan itu hanya pada sebagian perkara saja tentu mereka bukanlah generasi yang terbaik.(I’laamul muwaqqi’iin (4/136) oleh Ibnu Qoyyim)

Dan dalam hadits perpecahan umat kepada 73 golongan, semuanya celaka kecuali satu golongan, Rasulullah menjelaskan sifat mereka seraya berkata,

((وهي الجماعة)). وفي رواية: (ما أنا عليه اليوم وأصحابي). رواه أبو داود والترمذي.

“Yaitu: Jama’ah”. dalam riwayat lain: “Apa yang aku ikuti dan para shahabat-ku”.
Yang dimaksud dengan jama’ah disini adalah yang mengikuti kebenaran sekalipun minoritas dan yang menyelisihinya manyoritas manusia, sebagaimana yang dijelaskan oleh Abdullah Bin Mas’ud dalam perkataanya: “Jama’ah adalah yang sesuai dengan kebenaran sekalipun anda sendirian”.

Dalam hadits diatas Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam menjelaskan bahwa golongan yang selamat adalah golongan yang mengikuti kebenaran dan sunnah beliau serta jalan para shahabatnya, hal ini menjelaskan bahwa dalam mengamalkan islam dan memahaminya wajib kembali kepada sunnah Rasulullah manhaj para shahabat.

Makna inilah yang dipertegas dan di perkuat oleh ulama ulama syafi’iyah dalam ungkapan ungkapan mereka berikut ini,

Imam Abul Mudhoffar as-Sam’ani berkata:

(وشعار أهل السنة اتباعهم السلف الصالح وتركهم كل ما هو مبتدع محدث)

“Syi’ar Ahli Sunnah adalah mengikuti salaf shalih dan meninggalkan hal-hal yang bid’ah (dalam agama).” (Al-Intishor li Ashabil Hadits hlm. 31)

Sebaliknya syi’ar seluruh ahli bid’ah adalah meninggalkan mazhab salaf, sebagaimana yang dijelaskan oleh syeikhul islam Ibnu Taimiyah,

(إن شعار أهل البدع هو ترك انتحال اتباع السلف).

“Sesungguhnya syi’ar ahlulbid’ah adalah meninggalkan mengikuti salaf.”(Majmu’fatawa (4/155))

Imam Abul Hasan al-Asy’ari berkata,

(الإجماع التاسع والأربعون: وأجمعوا على أنه لا يجوز لأحد أن يخرج عن أقاويل السلف فيما أجمعوا عليه، وعما اختلفوا فيه أو في تأويله، لأن الحق لا يجوز أن يخرج من أقاويلهم).

“Ijma’ (kesepakatan) ke empat puluh sembilan, Para ulama bersepakat bahwa tidak boleh bagi seorangpun untuk keluar dari ucapan salaf dalam apa yang mereka sepakati atau perselisihkan karena kebenaran tidak akan keluar dari ucapan mereka.”(Risalah ila Ahli Tsaghor hlm. 306-307)

Al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah berkata, “Termasuk kerusakan yang sangat parah adalah menetapkan suatu ucapan yang menyelisihi madzhab salaf dari para imam kaum muslimin.”(Dinukil oleh An-Nawawi dalam Al-Majmu’ 6/466)

Al-Izzi Bin Abdussalam rahimahullah berkata, “Kebahagian yang sesungguhnya adalah dalam mengikuti Rasulullah dan mengikuti atsar para sahabat yang direkomondasi bahwa mereka adalah sebaik-baik genarasi”. Beliau juga berkata: “Mengikuti salaf lebih utama daripada membuat-buat bid’ah.”(Fatawa Al-Izzi bin Abdis Salam hlm. 319, 353)

As-Suyuthi
berkata, “Maka hendaknya dirimu wahai saudaraku mengikuti jalan salaf shalih dan hindarilah kebid’ahan dan kemunkaran. Jadilah hamba yang shalih dan mintalah kepada Allah taufiq dalam menempuh jalan mulia ini, karena barang siapa dikaruniai hal itu maka berarti diberi karunia yang sangat agung.”(Al-Amru bil Ittiba’ hm. 245)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *