Filsafat dan Ilmu Kalam dalam Sorotan Ulama Syafi’iyyah

ilmu-kalam-filsafat

Pada edisi sebelumnya telah dijelaskan landasan ulama Syafi’iyyah dalam beragama, yaitu Al Qur’an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus sholeh. Inilah yang merupakan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah. Mereka tidak menjadikan akal dan logika sebagai landasan dalam beragama, sebagaimana yang dilakukan oleh orang orang filsafat dan ahlul kalam. Bahkan mereka –ulama syafi’iyyah- sangat mencela dan mengecam keras filsafat dan ilmu kalam, sebagaimana yang akan dijelaskan pada makalah yang sederhana ini. Sebelumnya perlu dijelaskan asal usul dan makna kalimat (filsafat) serta maksud dari (ilmu kalam).

Maksud Filsafat dan Ilmu Kalam

Filsafat yang dalam bahasa arabnya adalah (الفلسفة). Asal maknanya adalah (محبة الحكمة) “mencintai hikmah”.

Filosof yang bahasa arabnya (الفيلسوف) “ahli filsafat” diambil dari bahasa latin yaitu (فيلا سوفا) yang artinya “pecinta hikmah” karena (فيلا) artinya “pecinta” dan (سوفا) artinya “hikmah”.

Itulah makna filsafat secara etimologi yaitu mencintai hikmah, dan perlu diketahui bahwa hikmah terbagi dua; pertama, (perkataan) yaitu perkataan yang hak dan kedua, (perbuatan) yaitu perbuatan yang benar.  Setiap umat mempunyai hikmah yang mereka ikuti dan amalkan. Umat atau manusia yang paling benar hikmahnya adalah mereka yang paling dekat hikmahnya kepada hikmah (perkataan dan amalan) yang dibawa oleh para Rasul –alaihimus salam-. (Lihat “Igatsatul lahfaan”Ibnu Qoyyim (hal: 755) cet. Dar Thaibah)

Kesimpulannya bahwa pada asalnya istilah filsafat atau filosof adalah istilah yang diberikan kepada orang yang mencintai dan mencari hikmah.  Istilah ini kemudian dikenal di kalangan mayoritas manusia dan ulama sebagai penamaan yang khusus bagi orang orang keluar dari agama yang dibawa oleh para nabi dan hanya berpegang dengan akal atau logika semata (para pengkultus akal). Terkhusus lagi, istilah ini dikenal di kalangan orang belakangan sebagai penamaan yang diberikan kepada pengikut Aristoteles yang dikenal dengan nama (Al Masysyaa’uun) (Diambil dari kalimat “al masyyu” yang artinya “berjalan”, dinamakan demikian karena dahulunya mereka belajar filsafat kepada Aristoteles sambil berjalan).

Teori mereka inilah yang di sederhanakan, di jelaskan, di kembangkan dan di perjuangkan oleh Ibnu Sina dalam banyak karya tulisnya. Kemudian dari kitab kitab filsafat Ibnu Sina inilah para ahlul kalam yang datang sepeniggalnya mengadopsi dan mengambil teori teori dan dasar dasar keilmuan mereka. (Lihat “Igatsatul lahfaan” (hlm: 756))

Adapun ilmu kalam –menurut ahlinya- adalah ilmu yang membahas masalah-masalah agama berlandaskan dalil-dalil akal semata yang bertujuan untuk membela akidah dan membantah teori teori dan kebatilan orang orang filsafat (!). Akan tetapi kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa ilmu kalam lahir dari rahim filsafat dan tumbuh dan berkembang dalam pangkuan orang-orang filsafat dan karya tulis mereka.

Artinya mereka membantah bid’ah dan kebatilan dengan metode yang bid’ah dan batil juga, sehingga menimbulkan kebatilan dan bid’ah yang lain. Sekalipun ahlulkalam menyelisihi orang orang filsafat dalam banyak teori dan keilmuannya, akan tetapi mereka semuanya sepakat dalam mengkultuskan akal dan menjadikannya sebagai landasan utama dalam beragama. Oleh karenanya, ahlulkalam dengan metoda tersebut pada hakekatnya –sebagaimana yang dijelaskan oleh syekhul Islam Ibnu Taimiyah- tidak berhasil memperjuangkan agama/sunnah dan membela akidah dan tidak pula mampu menepis kebatilan kebatilan filsafat dan menghujat argumentasi argumentasi mereka.( Lihat: “al fatwa al hamawiyyah” hlm: 282)

Nah bagaimana kedudukan akal menurut ulama Syafi’iyyah dan sikap mereka terhadap filsafat, ilmu kalam dan para pengkultus akal? Berikut penjelasannya.

Akal Dan Kedudukannya Menurut Ahlissunnah

Akal merupakan nikmat yang mulia yang Allah berikan kepada manusia, yang membedakan mereka dari seluruh makhluk ciptaan-Nya, yang berfungsi sebagai alat untuk berfikir dan mamahami, akan tetapi ia memiliki keterbatasan sebagaimana pandangan memiliki keterbatasan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Imam Syafi’I -rahimahullah-:

(إن للعقل حدا ينتهي إليه كما أن للبصر حدا ينتهي إليه).

“Sesungguhnya akal itu memiliki batas sebagaimana pandangan mata juga memiliki batas”. ( Adab Syafi’I, hlm: 271 dan Tawali Ta’sis, hlm: 134)

Oleh karenanya Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tidak menjadikannya sebagai pedoman dan landasan hukum dalam beragama, akan tetapi Allah turunkan wahyu (syari’at) untuk menuntun dan menerangi akal dalam memahami syari’at. Maka Ahlussunnah wal jama’ah sepakat bahwa akal bukanlah landasan beragama dan sumber pengambilan hukum, akan tetapi yang menjadi dalil dan landasan adalah wahyu (Al Qur’an dan Sunnah). Inilah yang ditegaskan oleh ulama Syafi’iyyah, berikut sebagian nukilan dari mereka:

Imam Abu Mudhoffar As Sam’aani (wafat 489 H) berkata,

(قول أهل السنة إن طريق الدين هو السمع والأثر وأن طريقة العقل والرجوع إليه وبناء السمعيات عليه مذموم في الشرع ومنهي عنه).

“Perkataan Ahlussunnah adalah sesungguhnya jalan (landasan) agama adalah As Sam’u (Al Qur’an dan Sunnah) dan atsar, dan metode akal dan kembali kepadanya serta membangun dalil diatasnya adalah tercela dan dilarang dalam syari’at.” (“al intishoor li ashhaabil hadits” hlm: 41-42)

Beliau juga berkata,

(وأما الكلام في أمور الدين وما يرجع إلى الاعتقاد من طريق المعقول فلم ينقل عن أحد منهم بل عدوه من البدع والمحدثات وزجروا عنه غاية الزجر ونهوا عنه).

“Dan adapun berbicara tentang urusan agama dan akidah dengan metode akal maka tidak perna dinukil dari salah seorang mereka (salafus sholeh), bahkan mereka menggolongkannya kedalam perkara bid’ah dan yang baru, dan mereka sangat mencega dan melarang dari hal itu.”( Idem, hlm: 68-69)

Imam Al Ajurri (wafat 387 H) menjelaskan kabatilan mazhab Mu’tazilah yang menolak dalil dalil Al Qur’an dan sunnah dengan akal semata, seraya berkata:

(وليس هذا طريق المسلمين وإنما هذا طريق من قد زاغ عن طريق الحق وقد لعب به الشيطان، وقد حذرنا الله عز وجل ممن هذه صفته، وحذرناهم النبي صلى الله عليه وسلم وحذرناهم أئمة المسلمين قديما وحديثا).

“Dan ini –berdalil dengan akal- bukanlah jalan (metode) kaum muslimin, ini hanyalah jalan (metode) orang yang menyimpang dari kebenaran yang telah dipermainkan oleh setan, dan sungguh Allah telah memperingatkan kita dari orang yang sifatnya seperti ini. Nabi shalallahu’alaihi wasallam (juga) telah memperingatkan kita dari mereka dan para imam kaum muslimin dahulu dan sekarang (juga) telah memperingatkan kita dari mereka.”( “Asy Syari’ah” 1/719 cet. Dar Al Fadhilah)

Imam An Nawawi –rahimahullah- berkata,

(ومذهبنا ومذهب سائر أهل السنة أن الأحكام لا تثبت إلا بالشرع وأن العقل لا يثبت شيئا).

“Madzhab kami dan madzhab seluruh Ahli Sunnah adalah bahwa hukum itu tidak ditetapkan kecuali dengan syari’at dan bahwa akal tidaklah menetapkan sesuatupun.” (Al-Majmu’ 1/263)

Masalah ini merupakan salah satu pembeda antara Ahli Sunnah wal Jama’ah dengan kelompok-kelompok sesat lainnya. Abul Mudhoffar As-Sam’ani berkata, “Perbedaan mendasar antara kita (ahli sunnah) dengan ahli bid’ah adalah dalam masalah akal, mereka membangun agama mereka di atas akal dan menjadikan dalil mengikut kepada akal. Adapun ahlu Sunnah berkata, Asal dalam agama adalah ittiba’ (mengikuti dalil), akal hanyalah mengikut. Seandainya asas agama ini adalah akal, tentunya makhluk tidak memerlukan wahyu dan Nabi, tidak ada artinya perintah dan larangan dan dia akan berbicara sesukanya. Seandainya agama dibangun di atas akal maka konsekuensinya adalah boleh bagi kaum mukminin untuk tidak menerima sesuatu sehingga menimbang dengan akal mereka terlebih dahulu.” (“Al-Intishor Li Ashabil Hadits”, hlm. 116-117. Cet. Maktabah Dar Al Minhaj)

Imam Sa’ad Az Zanjani –salah seorang ulama Syafi’iyyah- (wafat:471 H) -rahimahullah- menjelaskan bahwa akal itu terbagi dua macam: Pertama: Akal yang diberi taufiq, yaitu akal yang mengajak dan membimbing pemiliknya untuk menyetujui dan menerima perintah agama, tunduk dan pasra terhadap keputusannya serta meninggalkan larangan agama. Kedua: Akal yang dikekang dan dibelenggu oleh hawa nafsu dan kehinaan, yaitu akal yang berusaha untuk menggapai sesuatu yang ia tidak mampu untuk mengetahui dan memahaminya, sehingga membawa pemiliknya kepada kebingungan, kesesatan dan kesengsaraan. (Lihat “syarh al mandzumah ar raa’iyyah” hlm: 127-128 Karya: Imam Az Zanjani Asy syafi’I, dan “Al Hujjah di bayaanil Mahajjah…” 2/315)

Ahlussunnah wal jama’ah, merekalah yang mempunyai akal yang sehat yang dibimbing oleh Allah Ta’ala sehingga mereka pergunakan akal tersebut untuk memahami dalil dan menta’ati perintah agama,. Adapun akal ahlul bid’ah adalah akal yang sakit karena telah dikekang dan dibelenggu oleh hawa nafsu sehingga mereka terjerumus kedalam jurang kebatilan, kesesatan dan keraguan, Wal’iyadzubillah.

ULAMA ISLAM SEPAKAT KECAM ILMU KALAM

Mempelajari ilmu kalam adalah suatu kebodohan, karena ia adalah sumber bermacam kesesatan dan kebatilan, merusak pemikiran dan menyebabkan erosi keimanan. Oleh karenanya ulama Islam seluruhnya sepakat dalam mengecam dan mencelanya.

Imam Abul Qosim Sa’ad Az Zanjani berkata,

(لم يزل أهل الدين والعلم من أول الزمان إلى آخره منكرين لهذا العلم الذي يسمى الكلام، وهو الجهل الصريح والمروق من الدين، يجمعون كلهم على ذمه والتبري من أهله، وهجران من عرفوا أنه يرى ذلك دينا لله وقربة إليه).

“Senantiasa ahli agama dan ulama dari dahulu sampai akhir zaman mengingkari ilmu kalam, ia hanya kebodohan yang nyata dan keluar dari agama, mereka semuanya sepakat dalam mencelanya dan berlepas diri dari ahlinya, dan menghajer (meninggalkan) orang yang mereka kenal menyakini bahwa itu sebagai agama Allah dan mendekatkan diri (keta’atan) kepada-Nya.” ( “Syarh al mandzumah ar raa’iyyah fis sunnah” hlm: 92)

Diantara Imam Ahlissunah yang sangat keras dalam mencela ilmu kalam dan memperingatkan umat dari bahayanya serta melarang duduk bersama ahlinya adalah Imam Syafi’i –rahimahullah-(Lihat: idem (hlm: 93). Bahkan merupakan sifat mulia yang dimiliki beliau adalah tidak perna sama sekali suka kepada ilmu kalam, akan tetapi perhatiannya hanya tercurah kepada ilmu dan fiqih. (Sebagaimana yang di katakan oleh Imam Ahmad Bin Hammbal, lihat : “Al Hujjah ‘ala taatikil mahajjah” 1/246)

Imam adz-Dzahabi –rahimahullah- berkata, “Telah mutawatir dari Imam Syafi’i bahwa beliau mencela ilmu kalam dan ahli kalam. Beliau adalah seorang yang semangat dalam mengikuti atsar (sunnah) baik dalam masalah aqidah atau hukum fiqih.” (Mukhtashor Al-Uluw hlm. 177)

Perkataan Imam Syafi’I dalam hal ini begitu banyak, di antaranya:

“الْعِلْمُ بِالْكَلاَمِ جَهْلٌ”.

“Mempelajari ilmu kalam adalah kejahilan (kebodohan).” (Hilyatul Auliya’ 9/111. Perkataan yang senada diungkapkan juga oleh Al Qodhi Abu Yusuf –murid senior Imam Abu Hanifah-. Lihat “Al Hujjah fi bayaanil mahajjah” 1/116)

Beliau juga berkata:

“حُكْمِيْ فِيْ أَهْلِ الْكَلاَمِ أَنْ يُضْرَبُوْا بِالْجَرِيْدِ، وَيُحْمَلُوْا عَلَى الإِبِلْ، وَيُطَافُ بِهِمْ فِي الْعَشَائِرِ، يُنَادَى عَلَيْهِمْ : هَذَا جَزَاءُ مَنْ تَرَكَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ وَأَقْبَلَ عَلَى الْكَلاَمِ”.

“Hukumanku bagi ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan di atas unta, kemudian dia kelilingkan ke kampung seraya dikatakan pada khayalak: Inilah hukuman bagi orang yang berpaling dari Al-Qur’an dan sunnah lalu menuju ilmu kalam/filsafat.” ( Manaqib Syafi’I al-Baihaqi 1/462, Tawali Ta’sis Ibnu Hajar hal. 111, Syaraf Ashabil Hadits al-Khathib al-Baghdadi hal. 143. Imam adz-Dzahabi berkata dalam Siyar A’lam Nubala’ 3/3283: “Ucapan ini mungkin mutawatir dari Imam Syafi’i”)

Demikian selayang pandang tentang sikap Imam Syafi’I dari ilmu kalam/filsafat dan ahlinya, dan ini pula yang merupakan sikap seluruh ulama Syafi’iyyah yang berjalan diatas sunnah, perkataan mereka dalam mengingkari ilmu kalam dan filsafat sangat banyak sekali. Bahkan kitab-kitab yang mereka tulis tentang sunnah/akidah sarat dengan pengingkaran, kecaman dan celaan terhadap ilmu kalam dan ahlinya.

Di antara ulama syafi’iyah yang mencela ilmu kalam: Imam Abul Fath Nashr Al Maqdisi (wafat 490 H) pengarang kitab (الحجة على تارك المحجة), dalam kitab ini beliau memuat beberapa bab yang menghujat dan mencela ilmu kalam dan ahlinya, diantaranya,

(باب من ذم الكلام من الأئمة ونهى عنه ولم يجعله من جملة العلم). ” Bab: para imam yang mencela kalam dan melarang darinya dan tidak menjadikannya sebagai bagian dari ilmu.”( “Al Hujjah ‘ala taatikil mahajjah” 1/219-237)

Dan (باب عقوبة أصحاب الكلام). “Bab: hukuman ahlul kalam.”(Idem 1/238-244)

Dan (باب مدح من جانب الكلام ولم يقل به). “Bab: pujian (bagi) orang yang meninggalkan kalam dan tidak berbicara dengannya.”(Idem 1/246)

Kemudian beliau –rahimahullah- menukil dalam bab bab diatas riwayat yang banyak dari ulama salaf –terkhusus Imam Syafi’i- dalam mencela ilmu kalam dan menjelaskan hukuman orang yang mempelajarinya dan keutaman orang yang meninggalkan kalam dan tidak menyibukkan diri dengannya.

Diantara mereka adalah: Imam Abu Mudzoffar As Sam’ani (wafat 489 H) pengarang kitab “الانتصار لأصحاب الحديث”. Beliau memuat dalam kitab tersebut beberapa pasal tentang celaan terhadap ilmu kalam dan para pengkultus akal dan menjelaskan kebatilan metoda ahlulkalam yang menjadikan akal sebagai sumber beragama (“Al Intishoor li ashhabil hadits” hlm: 95-109), diantaranya: pasal (ما ورد عن الأئمة في ذم الكلام) “apa yang datang dari para imam dalam mencela kalam” (Idem, hlm: 44-51). Kemudian beliau membawakan sebagian perkataan para imam Ahlussunnah dalam hal ini, seperti Imam Syafi’i, Ahmad dan yang lain, kemudian berkata: “Inilah ucapan Imam Syafi’I tentang celaan ilmu kalam dan anjuran untuk mengikuti sunnah. Dialah imam yang tidak diperdebatkan dan terkalahkan.” (idem hlm. 45) Beliau juga berkata, “Maka jelaslah bagi kita bahwa jalan (yang diikuti dalam beragama) menurut para imam yang mendapat petunjuk adalah mengikuti (mazhab) salaf dan meneladani mereka tanpa kembali kepada pemikiran/akal.” (idem hlm. 47)

Imam Abul Qosim Ismail At Taimi –rahimahullah- (wafat: 535H) pengarang kitab “الحجة في بيان المحجة وشرح عقيدة أهل السنة” beliau memuat dalam kitabnya beberapa pasal yang mencela ilmu kalam dan ahlinya, diantaranya:
فصل: في ذكر من عاب الكلام وذمه من الأئمة” ”
Pasal: para imam yang mencela dan membenci kalam”. (“Al Hujjah fi bayanil mahajjah…” 1/113-117)
Dan (فصل آخر: في ذم الأئمة لعلم الكلام)
“Pasal yang lain tentang celaan para imam terhadap ilmu kalam”.( idem 1/224-226)

Beliau menyebutkan dalam kedua pasal tersebut dengan sanadnya riwayat yang banyak dari para imam Ahlussunnah yang mencela ilmu kalam, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’I serta imam imam yang lain.

Di antara ulama Syafi’iyyah Imam Ibnu Sholah –rahimahullah- beliau pernah ditanya tentang orang yang menyibukkan diri dengan mempelajari dan mengajarkan ilmu mantiq dan filsafat. Berikut redaksi pertanyaannya:

  • Apakah syari’at membolehkan mempelajari dan mengajarkan mantiq dan filsafat?.
  • Apakah para shahabat, tabi’in, ulama ulama mujtahidin dan salafus sholeh membolehkan mempelajarinya?
  • Apakah dibolehkan menggunakan istilah istilah mantiq/filsafat dalam menetapkan hukum hukum syari’at? Dan apakah hukum-hukum agama memerlukan mantiq/filsafat dalam menetapkannya?
  • Apa yang wajib atas orang yang mengajarkannya dan mempelajarinya? Apa yang harus dilakukan oleh penguasa setempat dalam hal itu?
  • Jika didapatkan disebagian daerah seorang dari ahli filsafat yang kenal mengajarkan filsafat, membacakannya dan menulis tentang filsafat, sedang ia adalah salah seorang pengajar di sekolah, maka apakah wajib atas penguasa daerah tersebut untuk menyingkirkannya demi keselamatan manusia?

Beliau menjawab dengan fatwa berikut:

(الفلسفة رأس السفه والانحلال ومادة الحيرة والضلال ومثار الزيغ والزندقة ومن تفلسف عميت بصيرته عن محاسن الشريعة المؤيدة بالحجج الظاهرة والبراهين الباهرة، ومن تلبس بها تعليما وتعلما قارنه الخذلان والحرمان، واستحوذ عليه الشيطان، وأي فن أخزى من فن يعمي صاحبه أظلم قلبه عن نبوة نبينا صلى الله عليه وسلم…

Filsafat adalah puncak kebodohan dan penyimpangan, faktor kebingungan dan kesesatan, sebab penyelewengan dan kezindiqkan. Barangsiapa yang mempelajari filsafat maka akan buta mata hatinya dari (melihat) keindahan syari’at yang diperkuat oleh dalil-dalil yang nyata dan argumentasi argumentasi yang kuat.  Barangsiapa yang mengajarkan dan mempelajarinya maka ia akan (selalu) disertai kehinan dan kemalangan, dan digoda/dipermainkan syethan. Disiplin ilmu apakah yang paling hina dari keilmuan yang membutakan mata yang mempelajarinya, yang menutup hatinya dari (cahaya) kenabian/risalah Nabi kita shalallahu’alaihi wasallam?

وأما المنطق فهو مدخل الفلسفة ومدخل الشر شر، وليس الاشتغال بتعليمه وتعلمه مما أباحه الشارع ولا استباحه أحد من الصحابة والتابعين والأئمة المجتهدين والسلف الصالحين وسائر من يقتدي به من أعلام الأئمة وسادتها وأركان الأمة وقادتها قد برأ الله الجميع من مغرة ذلك وأدناسه وطهرهم من أوضاره.

Adapun mantiq ia adalah pintu masuk kedalam filsafat, dan tempat masuk kejahatan adalah kejahatan, dan menyibukkan diri dengan mempelajari dan mengajarkannya bukanlah perkara yang dibolehkan oleh syari’at. Tidak pula diperbolehkan oleh seorangpun dari shahabat, tabi’in, para imam mujtahidin, salafus sholeh, seluruh yang menjadi panutan dari kalangan ulama yang terkemuka dan tokoh-tokoh umat dan para pemimpinnya, Allah sungguh telah menyelamatkan mereka seluruhnya dari bahaya tersebut dan noda-nodanya dan membersihkan mereka dari kejahatan-kejahatannya.

وأما استعمال الاصطلاحات المنطقية في مباحث الأحكام الشرعية فمن المنكرات المستبشعة والرقاعات المستحدثة وليس بالأحكام الشرعية والحمد الله، فالافتقار إلى المنطق أصلا وما يزعمه المنطقي للمنطق من أمر الحد والبرهان فقعاقع قد أغنى الله عنها بالطريق الأقوم والسبيل الأسلم الأطهر، كل صحيح الذهن لا سيما من خدم نظريات العلوم الشرعية، ولقد تمت الشريعة وعلومها وخاض في بحار الحقائق والدقائق علماؤها حيث لا منطق ولا فلسفة ولا فلاسفة، ومن زعم أنه يشتغل مع نفسه بالمنطق والفلسفة لفائدة يزعمها فقد خدعه الشيطان ومكر به.

Adapun menggunakan istilah-istilah mantiq dalam membahas hukum-hukum syari’at maka merupakan kemungkaran yang besar dan kejahilan yang dibuat buat, dan ia bukanlah hukum syari’at –alhamdulillah-. Maka pada dasarnya kebutuhan kepada mantiq dan apa yang dikataan oleh ahli mantiq tentang perkara had (defenisi dan batasan sesuatu) dan argumentasi maka adalah kebodohan yang tidak berguna, Allah sungguh telah mencukupkan darinya dengan metode yang lebih baik dan jalan yang lebih selamat dan bersih. Setiap yang memiliki akal (pemikiran) sehat terlebih lagi orang yang telah mengkaji teori-teori (kaedah-kaedah) ilmu agama, dan sungguh syari’at dan seluruh keilmuannya telah sempurna, dan para ulama syari’at telah menggali hakekat hakekat keilmuan yang dalam tanpa memerlukan ilmu mantiq dan filsafat dan tanpa ada para filosof. Dan barangsiapa yang menduga bahwa ia menyibukkan diri dengan mantiq dan filsafat untuk mendapatkan faedah yang ia duga maka sungguh ia telah ditipu oleh setan dan disesatkannya.

فالواجب على السلطان…أن يدفع عن المسملين شر هؤلاء المشائيم، ويخرجهم من المدارس ويبعدهم، ويعاقب على الاشتغال بفنهم، ويعرض من ظهر منه اعتقاد عقائد الفلاسفة على السيف أو الإسلام لتخمد نارهم وتنمحي آثارها وآثارهم -يسر الله ذلك وعجله-. ومن أوجب هذا الواجب عزل من كان مدرس مدرسة من أهل الفلسفة والتصنيف فيها والإقراء لها، ثم سجنه وألزامه منزله، ومن زعم أنه غير معتقد لعقائدهم فإن حاله يكذبه، والطريق في قلع الشر قلع أصوله، وانتصاب مثله مدرسا من العظائم جملة”.

“Maka merupakan kewajiban penguasa, untuk menolak dari kaum muslimin kejahatan mereka (ahli kalam dan filsafat) dan mengeluarkan dan manjauhkan mereka dari instansi instansi pendidikan. Menghukumi (orang) yang menyibukkan diri dengan ilmu mereka, dan menghadapkan orang yang menyakini akidah orang filsafat kepada pedang atau (hukum) islam agar padam api (kejahatan) mereka dan sirna bekas bekasnya dan pengaruh mereka –. Semoga Allah memudahkan dan menyegerakan hal itu-. Dan diantara tugas yang paling wajib adalah menyingkirkan guru sekolah dari kalangan ahli filsafat dan yang menulis tentangnya dan membacakan (kitab-kitab) filsafat, kemudian memenjarakannya dan mewajibkannya menetap dirumah, dan barangsiapa yang mengatakan bahwa ia tidak menyakini akidah mereka maka prihalnya mendustakannya, dan cara untuk menghilangkan kejahatan adalah menghilangkan sumbernya, dan mengangkat guru sepertinya adalah termasuk dosa besar…” (“Fatawa Ibnu Sholah”, (Bagian ketiga, hlm: 211-212, no fatwa: 55))

Itulah sebagian dari usaha, perkataan dan fatwa ulama Syafi’iyyah dalam mencela ilmu kalam/filsafat, Tidak sekedar itu saja, bahkan diantara mereka ada yang menulis kitab khusus yang mencela ilmu kalam dan melarang dari mempelajarinya serta membanta syubuhat syubuhat ahlinya, diantaranya:

Imam Abu Sualiman Al Khaththaabi (wafat:288 H) menulis kitab (الغنية عن الكلام وأهله).
Abu Hamid Al Gazali menulis kitab (إلجام العوام عن علم الكلام) “Mengekang orang awam dari limu kalam”.
Al Hafidz As Sayuti menulis kitab (صون المنطوق الكلام عن فن المنطق والكلام) “Menjaga perkataan dari ilmu mantiq dan kalam”.

ALASAN DIHARAMKAN ILMU KALAM DAN FILSAFAT

Al-Hafizh As-Suyuthi –rahimahullah- menyebutkan tiga alasan di balik larangan ulama salaf dalam mempelajari ilmu kalam, ketiga alasan tersebut beliau simpulkan dari perkataan Imam Syafi’I rahimahullah:

Pertama:
Ilmu kalam merupakan faktor penyebab kebid’ahan dan menyelisihi sunnah dan menyelisihi maksud Allah dan Rasul-Nya. Oleh karena itu seorang yang ingin memahami Al Qur’an dan sunnah berdasarkan kaedah-kaedah mantiq maka tidak akan menemukan selama lamanya maksud syari’at. Oleh karenanya imam Syafi’i berkata, “Tidaklah manusia berada dalam kebodohan dan berselisih kecuali tatkala mereka meninggalkan bahasa Arab dan cenderung (mempelajari) bahasa Aristoletes (filsafat).”

Kedua:
Ilmu ini tidak pernah diajarkan oleh Al-Qur’an dan hadits serta ulama salaf.  Berbeda dengan bahasa Arab maka sungguh telah terdapat perintah mempelajarinya dan telah ada dari ulama salaf yang membahasnya, dan inilah alasan yang dipegang oleh Imam Ibnu Sholah dalam memfatwakan haramnya mempelajari mantiq, sebagaimana yang beliau katakan, “dan tidaklah kesibukkan dalam mempelajari dan mengajarkannya sesuatu yang diperbolehkan agama dan diperbolehkan oleh salah seorang shahabat, tabi’in dan para imam mujtahidin”. Dan kemungkinan Ibnu Sholah menarik alasan ini dari perkataan Imam Syafi’i kepada Bisyr Al Marrisi , “Jelaskan kepadaku tentang apa yang kamu dakwahkan? Apakah ada Al Qur’an menjelaskan, merupakan suatu kewajiban, ada sunnah yang memerintahkan, dan terdapat di kalangan salaf yang membahas dan menanyakannya? Dia menjawab: “Tidak ada, akan tetapi kami tidak boleh menyelisihinya”, lalu imam Syafi’i menjawab, “Berarti kamu mengakui dengan dirimu selahan…”

Ketiga:
Merupakan sebab meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah. Imam Syafi’i telah mengisyaratkan kepada alasan ini dengan perkataannya: “Hukumanku bagi ahli kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, dan dinaikkan di atas unta, kemudian dia kelilingkan ke kampung seraya dikatakan pada khayalak: Inilah hukuman bagi orang yang berpaling dari Al-Qur’an dan sunnah lalu menuju ilmu kalam/filsafat.( Lihat “Shonul Manthuq Al Kalam ‘an fannil manthiq wal kalam” hlm. 15-33)

ILMU KALAM FAKTOR KESESATAN DAN KERAGUAN.

Abu Hamid Al Gazali –rahimahullah- menjelaskan dampak buruk ilmu kalam secara jelas seraya berkata,

(وأما منفعته فقد يُظنُّ أن فائدته كشف الحقائق ومعرفتها على ما هي عليه، وهيهات فليس في الكلام وفاء بهذا المطلب الشريف، ولعل التخبيط والتضليل فيه أكثر من الكشف والتعريف. وهذا إذا سمعته من مُحدِّث أو حشوي ربما خطر ببالك أن الناس أعداء ما جهلوا، فاسمع هذا ممن خبر الكلام ثم قلاه بعد حقيقة الخبرة وبعد التغلغل فيه إلى منتهى درجة المتكلمين، وجاوز ذلك إلى التعمق في علوم أخر تناسب نوع الكلام وتحقق أن الطريق إلى حقائق المعرفة من هذا الوجه مسدود)

“Dan adapun manfaat ilmu kalam kemungkinan diduga bahwa faedahnya adalah menyingkap hakekat (permasalahan) dan mengetahuinya sebagaimana adanya, jauh sekali (dari kebenaran) tidaklah ada dalam ilmu kalam yang bisa memenuhi keinginan yang mulia ini, bahkan penyimpangan dan kesesatan lebih banyak didalamnya dari pada menyingkap (kekekat) dan mengenalnya. Mungkin nasehat seperti ini kalau seandainya engkau mendengarnya dari seorang ahli hadits atau ahli sunnah tentu terbetik dalam hatimu bahwa “manusia adalah musuh apa tidak mereka ketahui’. Namun dengarkanlah hal ini dari seorang yang menyelami ilmu kalam dan berkelana panjang sehingga sampai kepada puncaknya ahli kalam, dan telah meyakini (secara pasti) bahwa jalan untuk (menyingkap) hakikat keilmuan dari jalur ini adalah buntu (tertutup).” (Ihya’ Ulumuddin 1/97 dan lihat “Syarh Ath Thohawiyyah” hlm: 205)

Bahkan Abu Hamid Al Gazali sendiri diakhir kehidupannya dirundung keraguan dan kebingungan dalam perkara-perkara ilmu kalam, lalu ia tinggalkan metode tersebut (ilmu kalam dan filsafat) dan mulai mempelajari hadits-hadits Rasul shalallau’alaihi wasallam. Dan ia meninggal sedang Shohih Bukhari diatas dadanya. ( Lihat “Syarh al aqidah ath thohawiyyah” hlm: 208)

Beliau juga berkata,

(أَكْثَرُ النَّاسِ شَكًّا عِنْدَ الْمَوْتِ أَهْلُ الْكَلَامِ)

“Manusia yang banyak keraguannya tatkala datang kematian adalah ahlulkalam.”(Di nukil oleh Syekhul islam dalam “majmu’ fatawa” 4/28)

Berikut sebagian dari perkataan fakar ilmu kalam dari kalangan ulama Syafi’iyyah yang mengungkapkan keraguan dan penyesalan mereka dari mempelajari ilmu kalam/filsafat:

Imamul Haromain al-Juwaini beliau berkata,

“يَا أَصْحَابَنَا لَا تَشْتَغِلُوا بِالْكَلَامِ، فَلَوْ عَرَفْتُ أَنَّ الْكَلَامَ يَبْلُغُ بِي إِلَى مَا بَلَغَ مَا اشْتَغَلْتُ بِهِ”.

“Wahai sahabat-sahabatku, janganlah kamu sibuk dengan ilmu kalam. Seandainya saya tahu bahwa hasil ilmu kalam adalah seperti yang menimpa diriku, niscaya saya tidak akan menyibukkan diri dengan ilmu kalam.” (Al-Mantsur Minal Hikayat was Sualat hlm. 51 oleh Al-Hafizh Muhammad bin Thohir al-Maqdisi. Dan lihat “Syarh Ath thohawiyyah” hlm: 209)

Demikian juga Fakhruddin ar-Rozi, pakar ahli kalam, beliau pernah mengatakan diakhir hayatnya:

نِهَايَةُ إِقْدَامِ الْعُقُوْلِ عِقَالُ وَأَكْثَرُ سَعْيِ الْعَالمِيْنَ ضَلاَلُ
وَأَرْوَاحُنَا فِيْ وَحْشَةٍ مِنْ جُسُوْمِنَا وَغَايَةُ دُنْيَانَا أَذَى وَوَبَالُ
وَلَمْ نَسْتَفِدْ مِنْ بَحْثِنَا طُوْلَ عُمْرِنَا سِوَى أَنْ جَمَعْنَا فِيْهِ قِيْلَ وَقَالُوْا.
لقد تأملت الطرق الكلامية والمناهج الفلسفية، فما رأيتها تشفي عليلا ولا تُروي غليلا، ورأيت أقرب الطرق طريقة القرآن… وَمَنْ جَرَّبَ مِثْلَ تَجْرِبَتِي عَرَفَ مِثْلَ مَعْرِفَتِي).

Akhir dari mengedepankan akal hanyalah kemandegan
Kebanyakan usaha manusia adalah kesesatan
Ruh yang ada di badan kami selalu dalam kegundahan
Ujung dari dunia kami adalah kemurkaan
Kami tidak memetik hasil apa pun sepanjang umur
Selain hanya mengumpulkan kabar burung.
Sungguh aku telah memperhatikan metode-metode ilmu kalam dan teori teori filsafat maka saya tidak mendapatkannya sebagai penyembuh rasa sakit dan pelepas dahaga, dan saya mendapatkan bahwa metode yang paling dekat (benar) adalah metode Al Qur’an. Barangsiapa yang mencoba seperti pengalamanku maka ia akan tahu seperti pengetahuanku.” (Lihat Dar`u Ta’arudh al-’Aql wan Naql 1/159-160 oleh Ibnu Taimiyah, Thabaqat asy-Syafi’iyah 2/82 oleh Ibnu Qadhi Syuhbah dan “Syarh Ath Thohawiyyah” hlm: 208-209)

Demikian pernyataan sebagian pakar ilmu kalam/filsafat yang menjelaskan akan bahaya, kesesatan, kebatilan dan keraguan yang disebabkan oleh mempelajari ilmu kalam. Maka renungilah dan ambillah pelajaran dan ibroh wahai orang-orang yang berakal. Semoga Allah merahmati imam Syafi’i yang mengatakan,

(ما رأيت أحدا ارتدى الكلام فأفلح، ولأن يبتلي المرء بكل ذنب نهى الله عنه ما خلا الشرك، خير له من يبتلي بالكلام).

“Saya tidak mendapatkan seseorang yang menggunakan (ilmu) kalam yang beruntung, dan sekiranya seseorang diberi cobaan dengan (melakukan) seluruh dosa selain syirik tentu lebih baik baginya daripada diuji dengan (mempelajari) ilmu kalam.”

Demikian, semoga Allah Ta’ala membimbing kita semua untuk selalu berpegang teguh kepada Al Qur’an dan sunnah serta pasrah kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya, dan diberi akal yang sehat dan jernih untuk memahami syari’at yang sempurna, dan diselamatkan dari kesesatan dan kebatilan ahlulkalam dan filsafat yang mengkultuskan akal/logika semata. Aamiin.

Muhammad Nur Ihsan, hafidzahullah.
www.aqidatuna.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *